Keterkaitan Antar Materi

HERU WIBOWO_CGP Angkatan 7_Kelas 53 


Pembelajaran Berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (comon sense) atau usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid atau yang berorientasi pada kebutuhan murid.

Menurut Tomilson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid.

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain:

  1. Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)
  2. Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)
  3. Mengevaluasi dan erefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Terdapat tiga strategi diferensiasi diantaranya;

1. Direfensiasi konten

    Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid. Guru perlu menyediakan bahan dan          alat sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

2. Diferensiasi proses

    Proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang                dipelajari.

    Diferensiasi proses dapat dilakukan dengan cara:

      a. menggunakan kegiatan berjenjang

      b. meyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan                                di sudut-sudut minat,

      c. membuat agenda individual untuk murid (daftar tugas, memvariasikan lama waktu                    yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas,

      d. mengembangkan kegiatan bervariasi 

 3.  Diferensiasi produk

      Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada kita        (karangan, pidato, rekaman, doagram) atau sesuatu yang ada wujudnya.

      Produk yang diberikan meliputi 2 hal:

      a. memberikan tantangan dan keragaman atau variasi,

      b. memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran                yang diinginkan.

      Setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tidak semua murid bisa kita beri          perlakuan yang sama. Jika kita tidak memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan            murid maka hal tersebut dapat menghambat murid untuk bisa maju dan berkembang                belajarnya. 

Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdiferensiasi. 

Saya menarik kesimpulan bahwa keterkaitan antara modul 1.1 s/d 1.4 dan modul 2.1 ini adalah pembelajaran yang berpihak pada murid dengan tujuan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2

Definisi dan contoh penerapan :